Saya baru saja turun dari pesawat setelah 2 hari berada di Surabaya untuk menghadiri satu acara Convention yang diselenggarakan oleh perusahaan tempat saya bekerja. Saya beruntung karena selama perjalanan di atas pesawat, saya tidak tertidur (seperti yang biasa saya lakukan), karena penumpang yang duduk di sebelah saya ternyata wartawan senior dari Koran kompas. Beliau sudah hampir 20 tahun terjun di dunia jurnalistik dan berpindah-pindah dari satu media ke media lainnya.
Kami membahas banyak hal dan tak lupa juga saya menyampaikan kritik ke beliau untuk disampaikan ke Management kompas bahwa semakin lama saya melihat koran Kompas terlalu banyak iklannya
, dan beliau memberikan reason bahwa itu adalah salah satu kebutuhan untuk mempertahankan media cetak di tengah-tengah era web digital saat ini.
Hal pertama yang saya tanyakan ke beliau adalah sebenarnya kode etik seorang jurnalistik itu apa sih pak? menurut beliau kata kunci nya adalah independen, akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk.
1 jam 15 menit di perjalanan, pembicaraan kami berputar mulai dari kasus lapindo, kunjungan Presiden SBY di Surabaya, pilkada Surabaya, kasus Century, Yusril vs Hendarman, TDL, Gurbernur BI Darmin Nasution, KBI II, hingga ujung-ujung nya ke setgab koalisi bahkan Ormas Nasional Demokrat. (jujur saja, beliau tidak tertarik sama sekali membahas kasus Ariel, menurut-nya mereka korban pengalihan issue penting dan kejar rating penonton).
Kita menyadari bahwa kekuatan media di zaman sekarang memegang peranan penting untuk membawa arah berpikir masyarakat. Point positifnya, media bisa juga digunakan untuk membongkar kasus seperti “Skandal Watergate” yang pada akhirnya menjatuhkan Presiden Nixon di tahun 1970-an. Tetapi yang paling memprihatinkan adalah media juga bisa digunakan untuk pembunuhan karakter atau penghancuran nama baik dan reputasi seperti yang dialami oleh beberapa tokoh di Indonesia.
Tak heran, para politis berlomba lomba untuk menguasai media demi untuk memperoleh citra dan membentuk image di masyarakat. yang paling menonjol saat ini adalah Pak Ical dengan TvOne dan Anteve-nya, dan Pak Surya Paloh dengan MetroTV-nya.
Saya kira masih sedikit dari masyarakat kita yang menyadari bahwa sesungguhnya para elit ini melalui media nya berusaha menyetir arah berpikir dari masyarakat untuk menyikapi isu-isu yang hangat dibahas. Lihat saja, jika sudah berbicara tentang kasus Lapindo yang berhubungan dengan keluarga Bakrie, MetroTV akan berusaha menampilkan kondisi terburuk di lapangan dan mengundang nara sumber yang berusaha memperburuk citra keluarga tsb (perang Ical vs Surya Paloh). Sementara di TVOne sebelum Sri Mulyani turun, stasiun TV ini sangat getol menampilkan berita maupun talk show yang memojokkan Ibu pintar ini dalam kasus Century, dan tentunya ada kepentingan pribadi dibaliknya.
Di awal saya mengenal kedua media penyiaran ini, saya berpikir bahwa dari cara mereka menyajikan content yang sangat professional, mereka akan mampu mengubah paradigma pemberitaan dan disiminasi informasi. Tetapi melihat kondisi saat ini, benar-benar memprihatinkan…
Dengan kondisi perang antar 2 stasiun penyiaran terbesar di Indonesia ini, tampaknya stasiun lain adem ayem saja, asik dengan kejar rating seperti RCTI dan SCTV dengan sinetron-nya, Indosiar dengan TMO happy song-nya, Trans TV & Trans 7 dengan PVJ bukan empat mata-nya, dan TPI dengan permasalahan yang masih menggantung antar Mbak Tutut vs Hary T
. Lalu, stasiun mana lagi yang bisa menyeimbangkan kondisi ini? Masih belum ada… padahal masyarakat kita masih memerlukan stasiun TV yang netral dan mampu membagi informasi yang bisa dipertanggung jawabkan. Masyarakat perlu statsiun TV ke 3 di luar perang TV One vs Metro TV, yang mampu bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk. Mari kita lihat bersama apakah stasiun ke 3 ini akan muncul di 10 tahun ke depan?.. 26 July 2010 Yossy Girsang
